Minggu, 17 Januari 2016

Night Walker

NW
“Night Walker”


Kata orang, dari setiap cerita yang kita dengar setidaknya ada satu hal baru yang bisa dipetik. Apa ini berlaku untuk cerita ini? Yah, Kita lihat saja. Ini mungkin salah satu pengalaman tergokil, seru, konyol, dan gak jelas saat gue kuliah. Hari di mana ulang tahun gue dilewati dengan cara yang gak biasa.

Malam itu, adalah malam Jumat. Gue dan tujuh orang teman gue, berjalan melewati gerbang PSBJ di tengah malam. Kami juga gak ngerti kenapa agenda malam itu bisa berujung uji nyali. Beberapa jam sebelumnya gue dan para bocah itu hanya asyik makan, nonton, dan gosip-gosip soal cewek. Tapi pada akhirnya inilah yang terjadi.

Tepat pukul 12.00 malam kami memasuki kawasan PSBJ. Sekedar informasi, PSBJ adalah singkatan dari Pusat Studi Bahasa Jepang yang berlokasi di dalam kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor. Katanya bangunan ini tempat paling menyeramkan di Universitas gue. Banyak banget cerita penampakan yang kerap kali muncul di sini. Kami terbagi menjadi dua tim. Tim gue berjalan melewati sudut sebelah kiri menuju belakang aula dan terus memutari PSBJ melalui kantin. Tim yang lain menuju arah sebaliknya melawati lorong belakang kelas dan menaiki tangga menuju perpustakaan. Akhirnya setelah bersiap-siap, kami berangkat.

Suasana PSBJ saat itu hening banget. Tinggal gue bersama tiga orang dalam tim gue. Hanya suara langkah kami berempat yang mengisi gaung-gaung di sepanjang perjalanan malam itu. Kami bisa merasakan nafas kami yang berat saat memperhatikan setiap sudut bangunan yang gelap. Seakan ada sesuatu yang memperhatikan dari balik kegelapan itu. Semua ketegangan itu membisukan mulut-mulut kami. Melihat kelas-kelas yang biasanya ramai, berubah seketika menjadi ruangan yang horor. Rasa penasaran membimbing gue untuk coba mengintip lewat jendela. Dengan menempelkan sebelah kanan telapak tangan di kaca jendela yang dingin, gue mendekatkan wajah sampai hidung gue bisa merasakan aroma embun yang menempel pada kaca. Mata gue menyusuri seisi ruangan. Lampunya mati, jadi hanya bagian luarnya saja yang terlihat karena ter sinari oleh lampu dari teras kelas. Gue berusaha fokus pada bagian tengah ruangan yang sangat gelap. Waktu itu entah apa yang gue harapkan, atau gak gua harapkan untuk dilihat. Fuhh. (untungnya gak ada yang nemplok tiba-tiba di kaca), (karena pernah kejadian).  Waktu pun berlalu, di tengah perjalanan tiba-tiba keheningan selama itu pecah oleh suara teriakan dan deru langkah kaki-kaki yang berlari-lari. Kami terkejut sampai ikut berteriak dan berlari tanpa tahu sebabnya. Dari kejauhan kami melihat tim yang lain sedang berlari kembali menuju gerbang. Kami pun mengikuti mereka sampai akhirnya semua tiba di gerbang PSBJ, dengan nafas terengos-engos. Salah satu teman gue berwajah sangat pucat. Ia terlihat berusaha sangat keras untuk berbicara dengan terbata-bata. Setelah keadaan semua orang cukup tenang, ia menceritakan kepada kami bahwa ia melihat sebuah bayangan di balik kaca perpustakaan. Kami semua tersentak kaget. Jantung kami seakan berhenti berdenyut beberapa saat. Sampai teman kami berbicara bayangan itu berwarna biru. Lalu kami semua tertawa. Sepertinya itu hanya pantulan bayangan baju biru yang dikenakannya sendiri.

Akhirnya gue dan temen-temen memutuskan untuk pergi meninggalkan PSBJ. Dalam perjalanan, karena udah tanggung, sekalian kami mengelilingi seluruh kampus sambil jalan-jalan di malam hari itu. Ternyata gak ada yang perlu kami takutkan (walaupun di sepanjang jalan temen gue yang satu selalu cerita-cerita mistis setiap kami pindah tempat). Gak ada hal aneh yang terjadi. Semua berjalan dengan wajar. Sebelum keluar dari kampus kami semua berfoto di sebuah bunderan di perempatan jalan dalam kampus. Akhir perjalanan malam itu pun berujung di sebuah jembatan tua di Jatinangor bernama “Jembatan Cincin”  (katanya ini juga salah satu tempat paling angker di Jatinangor).

Kami merasa benar-benar lelah dan lapar. Akhirnya kami pesan makanan, dan makan bersama di tengah Jembatan Cincin (buset motor abang nasinya nganterin ke tengah jembatan). Kami pun makan dengan lahap (dengan lapar lebih tepatnya). Setelah perut terisi penuh mata pun mulai berat,  kami tidur di sana. Gue termenung. Hening. Hembusan angin menerpa kulit tangan gue yang dingin. Melihat langit hitam yang sangat luas dengan taburan bintang yang berkelap-kelip (sebenernya ga juga sih). Namun yang pasti, bersama tujuh teman baik. Di atas jembatan tua. Melewati perjalanan malam yang panjang. Itu momen yang euhh banget. Hari yang gak akan gue lupa.

Akhirnya semua bangun (untung gak terus tepar sampe diinjek orang lewat). Pagi itu kami nunggu fajar terbit dari atas jembatan. Gue menghitung mundur sampai beberapa kali karena gak muncul-muncul juga itu mentari. Hingga akhirnya nongol juga. Matahari pertama gue di usia delapan belas tahun. Hm, hangat. Silau. Serasa memberi gue semangat baru untuk satu tahun yang lebih baik di tahun ini. Thanks guys. Gue akan menjaga kenangan ini sampai tua nanti.

Beberapa hari setelah itu. Ada hal aneh terjadi. Kami melihat foto kami di bundaran waktu itu. Sebuah bayang biru menyerupai wajah perempuan dengan rambut yang panjang terpampang jelas tepat depan muka gue, muncul tiba-tiba di foto itu.

*lain kesempatan gue share fotonya

*“NW/Night Walker” diambil dari nama grup kami berdelapan buat malam itu

Kamis, 14 Januari 2016

The Forest_Sinopsis

       Ini adalah sinopsis salah satu cerpen yg pengen gue buat. Ceritanya mulai tertarik sm dunia tulis-menulis nih haha. Tapi pada intinya tetap ingin berbagi. Hanya sedang explore metode-metode baru aja. Semoga menginspirasi ^^. Kalau ada masukan bakal seneng banget. Maklum amatiran maafin hehe.

THE FOREST

SINOPSIS

     Peter adalah seorang anak yang duduk di bangku SMP kelas 2. Bersama adiknya Max, dan ayahnya, mereka bertiga tinggal di pusat kota New York. Saat itu, New York sudah menjadi kota yang benar-benar maju dalam bidang teknologi. Semua sarana dan prasarana di sana sangat canggih. Taman-taman di kota pun berubah menjadi tempat-tempat wisata modern. Namun dalam hiruk pikuk kehidupan yang serba canggih itu, Peter merasakan kebosanan. Keseharian yang dilakukan Peter dan orang-orang di kota tersebut seakan monoton. Sampai tiba-tiba ayah Peter mengajak Peter dan Max pindah rumah ke luar negeri karena urusan bisnis sang ayah untuk beberapa tahun ke depan. Akhirnya mereka pun pindah ke Jepang.

    Di sana mereka pindah ke sebuah desa di pinggir kota. Keadaan lingkungan yang sungguh berbeda. Pemandangan yang belum pernah Peter dan Max lihat selama mereka tinggal di New York. Jalanan yang sepi. Pohon-pohon di sepanjang jalan. Sungai yang jernih. Sebuah pemandangan alam yang masih asri. Di sana Peter dan Max pindah ke sebuah sekolah yang tak jauh dari rumah baru mereka. Di kelas barunya, mereka bertemu dengan teman-teman pertamanya, Ken dan adiknya Rika.

Rumah Ken dan Rika ternyata tidak jauh dari rumah Peter dan Max. Mereka mulai akrab dan sering bermain bersama. Suatu hari, seusai pulang sekolah mereka berempat bermain terlalu jauh sampai hampir memasuki sebuah hutan tak dikenal. Ken dan Rika yang merupakan penduduk local di situ tahu akan bahaya yang mungkin menyerang mereka. Saat Ken akan melarang Peter memasuki hutan tersebut, Peter melihat seorang anak perempuan di dalam hutan tersebut. Saat Peter mencoba mendekatinya, anak perempuan itu pergi. Peter pun berlari berusaha mengejarnya. Yang terpaksa diikuti oleh Ken, Rika, dan Max. Tanpa sadar mereka telah memasuki hutan terlarang tersebut. Mereka pun tersesat. Namun rasa penasaran yang kuat keempat anak-anak itu mengalahkan rasa ingin pulang mereka. Rasa ingin tahu tentang apa yang sebetulnya ada dalam hutan tersebut menuntun kaki mereka melangkah lebih dalam. Sampai mereka menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan di dalam sana, yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya, yang ternyata tidak seperti Ken dan Rika anggap selama ini. Dan anak perempuan yang dilihat Peter, Megumi, akhirnya menjadi teman paling berharga yang pernah ada, yang tak pernah terlupakan oleh mereka berempat.

Kamis, 17 Desember 2015

lebih Kecil dari Semut

蟻より小さい
lebih Kecil dari Semut

Seusai mandi di waktu yang sudah cukup malam. Di atas kasur tipis dalam kamar kecil dengan bersender pada tembok yang dingin. Aku Melamun. Saat sesuatu menggelitik tanganku. Seekor semut hitam kecil berjalan di atas punggung telapak tangan kiriku. Dengan refleks aku meniupnya. Saat Ia hampir terlempar, Ia meregangkan tubuhnya, memasang kuda-kuda dengan kaki-kaki kecilnya yang terlihat rapuh. Setelah angin melemah, Ia kembali mulai merangkak. Aku meniupnya lagi. Ia meregangkan tubuhnya, membuat kuda-kuda dengan kaki-kaki kecilnya. Lagi. Lebih kuat. Aku mulai tersadar dari lamunanku. Semut itu kembali memulai merayap, berputar-putar dikulit tanganku. Semakin lama, aku mulai dapat merasakan sentakan kaki-kakinya berjalan. Cukup bertenaga untuk seukuran kaki-kaki mungil seperti itu. Ia menggerak-gerakan antenanya yang sangat tipis, hampir tak terlihat jika ia tak menggerakkannya. Gerakannya seperti mencari sebuah sinyal. Atau sebuah lambaian tangan. Kelihatannya ia tersesat.

Hari itu adalah hari yang cukup berat. Terlambat ujian, uang makan habis, tugas akhir telat akibat laptop eror, dimarahi dosen, terguyur hujan akibat payung hilang. melelahkan sekali. Tetapi yang terburuk dari semua itu adalah tak ada seseorang yang dapat aku bagi dengan semua cerita itu. Dalam kelelahan, ditemani keheningan, tiba-tiba hampa. Entah mengapa, akhir-akhir ini aku sering merasa seperti itu. Apa kalian juga pernah tiba-tiba merasakan sebuah kesepian yang sangat. Tiba-tiba merasa seorang diri. Merasa tiba-tiba ingin menangis tanpa tahu sebabnya. Saat tak seorang pun yang dapat menjadi tempat berbagi kita. Bahkan di tengah canda tawa, di tengah kerumunan lalu-lalang orang-orang, tiba-tiba perasaan itu muncul. Menyerang. Menguras semua hasrat dan ambisi. Memunculkan pertanyaan dalam benakku untuk apa aku berusaha sesusah payah ini. Membekukan semangat. Sampai rasanya lelah untuk menghela nafas sekali pun. Mengosongkan pikiran dan hati. Membuatku bertanya, apa lagi selanjutnya. Apa besok juga akan seperti ini. Apa setiap hari akan terus berulang seperti ini. apa ini yang membuatku bahagia. Menyedot bersih jiwa. Mengeringkan semua sumsum dari tulang-tulang tubuhku. Membuat seluruhnya hampa. Tak berarti. Gelap. Seakan tersedot lubang hitam. Tak ada bedanya membuka dan menutup mata. Hilang dan melebur bersama serpihan memori yang tersisa.

Ada kalanya, saat kita harus sendiri. Saat kita memang harus menghadapi semuanya tanpa siapa pun di samping kita. Berdiri di atas kedua kaki sendiri, menggenggam dengan kedua tangan sendiri, melihat dan mendengar dengan kedua mata dan telinga kita sendiri. Setiap orang pasti memiliki waktu-waktu seperti itu. Ketika itu, sering kali kita merasa tak berdaya. Bingung. Muncul banyak pertanyaan-pertanyaan. Yang tak ada satu pun jawaban yang kita tahu. Merasa tak mengerti dengan hidup ini. merasa begitu lemah. Kecil. Lebih kecil dari semut. Tak apa. Tak ada yang salah dengan itu. Sebuah fenomena yang manusiawi. Dibalik rasa percaya diri kita, dibalik rasa bangga kita, dibalik keberanian-keberanian kita, sebetulnya kita sedang berusaha menyembunyikan sisi lainnya, keraguan akan kemampuan kita sendiri, rasa kecewa pada diri sendiri saat mengingat semua kegagalan dulu yang sebelumnya kita yakin akan berhasil, rasa takut akan masa depan yang tak pernah ter bayangkan, rasa khawatir akan sukses tidaknya kita nanti, akan bergunanya kita nanti bagi orang-orang di sekitar kita.

Tuhan mengatakan kita adalah makhluk-Nya yang paling sempurna. Awalnya aku menyangkal itu. Tapi sekarang aku mengerti apa yang membuat kita sempurna jika dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Kita bukan malaikat yang selalu benar. Kita bukan iblis yang selalu salah. Kita manusia. Malaikat, hanya dapat menjadi baik. Mereka tidak dapat berbuat jahat, bahkan saat mereka menginginkannya. Iblis, hanya dapat menjadi jahat. Mereka tak dapat berbuat baik meski mereka lelah berbuat jahat. Tapi kita manusia, kita dapat menjadi iblis terkejam di muka bumi sekaligus menjadi malaikat bersayap cahaya di waktu yang bersamaan. Kita dapat mengubah kejahatan menjadi kebaikan. Kita dapat mengganti kebenaran menjadi kesalahan. Itu yang membuat kita sempurna. Karena kita dapat memilih. Sesuatu yang tidak dimiliki malaikat dan iblis. Atau binatang dan tumbuhan sekali pun. Hanya kita yang dianugerahi kemampuan itu. Menurutku itu adalah anugerah terbesar Tuhan untuk manusia. Memilih. Membuat manusia menjadi seutuhnya manusia.


Saat angin kehidupan meniup kencang tubuh kita. Saat kaki-kaki telah lelah melangkah, saat tangan sudah lemah untuk menggenggam. Ketika saat itu tiba, kita harus membuat keputusan. Apa kita akan memilih untuk menyerah. Atau bangkit, berdiri di atas tanah. Dengan gagah mengatakan pada dunia, “aku adalah semut kecil yang tangguh”.

Selasa, 17 November 2015

Aku Setelah Bertemu Denganmu "君と出会えた僕"

君と出会えた僕
Aku Setelah Bertemu Denganmu

Aku ingin sedikit berbagi mengenai cinta. Yang aku bicarakan di sini adalah cinta kepada pasangan. Menurutku, cinta adalah sesuatu yang abstrak dan paling kontroversial. Mulai dari yang berkata cinta itu bahagia, cinta itu rasa sakit, cinta itu indah, cinta itu pengorbanan, dan lain-lain. Kita semua memiliki pandangan masing-masing mengenai apa itu cinta. Namun yang akan aku ceritakan sedikit berbeda dengan kisah cinta biasanya.

Satu waktu aku dan pacarku jalan ke salah satu mall besar di Bandung. Seperti halnya orang-orang pada waktu itu, kami belanja sana-sini, bermain sana-sini, makan ini-itu, dan lain-lain. Setelah lelah dengan semua agenda kencan itu, di tengah perjalanan tiba-tiba pacarku mendatangi seorang kakek yang duduk di pinggir jalan tepat di depan mall tersebut. Kakek itu berwajah hitam keriput dan terlihat sudah sangat tua. Sambil kedua tangannya memegang keset, dengan suara yang parau ia menawarkan barang dagangannya pada orang-orang yang berlalu-lalang. Pacarku mendekatinya dan menanyakan berapa harga keset tersebut, lalu akhirnya membeli keset dari sang kakek tua itu. Kakek itu terlihat sangat senang dan terus berterima kasih. Melihat kejadian itu, untuk sekejap membuatku terdiam dan bengong. Aku tak habis pikir. Di tengah-tengah hiruk pikuk kehidupan kota besar, di antara orang-orang yang beraktifitas dengan semua kemewahan yang mereka miliki, belanja barang-barang trendy, makan di restoran elit, sangat kecil sekali kemungkinan ada orang yang cukup peka dan bersimpati untuk membeli sebuah keset murahan dari seorang kakek tua di pinggir jalan. Bahkan aku sendiri tak melihat ada seorang kakek di situ. Harus ku akui itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Hanya yang cukup berjiwa besar, yang mampu menanggalkan semua gelar kehormatan di bahunya, lalu merendah untuk sejajar dengan orang yang akan ditolong, dan membawanya terbang bersama dengannya. Dan tak semua orang dapat melakukan itu di zaman seperti ini. Aku merasa sangat terkejut waktu itu. Hari itu, menjadi momen yang tak akan terlupakan bagiku.

Semenjak kejadian itu aku mencoba lebih sadar pada lingkungan. Aku mencoba membuka mata dan telinga lebih lebar dari sebelumnya. Hingga beberapa waktu yang lalu aku bertemu seorang nenek bongkok penjual sapu lidi. Sambil berjalan dengan tergopoh-gopoh nenek itu menenteng sapu-sapu lidi jualannya. Walau pun dunia keras padanya, nenek itu enggan menjadi pengemis dan memilih tak menyerah pada kehidupan. Walau pun sebetulnya aku tidak perlu, tapi aku memutuskan untuk membantu dengan membeli sapu lidinya. Nenek itu terlihat sangat bahagia dan berterima kasih padaku karena telah membeli dagangannya. Sepertinya sudah seharian ia berjalan jauh dan tak ada sapunya yang laku. Uang yang aku keluarkan untuk membeli sebatang sapu lidi itu memang tak seberapa, tapi ada perasaan bahagia tersendiri yang ku rasakan tiba-tiba. Perasaan yang tak dapat aku jelaskan dengan kata-kata. Hanya yang pasti, ketika aku menyaksikan wajah bahagia nenek itu aku merasakan kebahagiaan yang tak terbayar oleh apa pun. Saat itu aku merasa betapa berharganya keberadaanku karena aku dapat berbagi. Rupanya ini yang dirasakan pacarku sewaktu menolong kakek penjual keset dulu. Dan aku pun ingin terus berbagi.

Aku berubah. Ya, berkat pacarku.

Banyak orang berkata bahwa cinta tak perlu alasan. Ya, mungkin benar. Tapi ada hal janggal yang mengganggu pikiranku dari kalimat itu. Apabila memang benar cinta tak perlu alasan, mungkin saat ini aku dapat saja jatuh cinta pada tukang seblak dekat kosanku. Toh kan tak perlu alasan untuk mencintai. Jadi, aku pikir walau pun kita semua berkata bahwa cinta tak perlu alasan, namun  sebetulnya ada hal yang kita suka dari pasangan kita. Sesuatu yang membuat kita nyaman bersamanya. Sesuatu yang membuat kita ingin terus berada di sampingnya. Sesuatu yang tak bisa kita dapatkan dari orang lain. Itulah sebabnya kita tidak dapat jatuh cinta pada semua orang. Hanya saja saking meluapnya perasaan-perasaan itu, kita tak sempat memeriksanya lebih dalam. Sampai akhirnya muncullah sebuah kata yang rasanya sanggup mewakili semua perasaan yang tidak kita mengerti itu, cinta.


Jadi, apa itu cinta. Aku tak tahu. Mungkin kita tak akan pernah tahu. Namun, setidaknya kita belajar satu hal. Berbicara mengenai cinta tak akan pernah selesai. Berkutat dalam perbincangan itu hanya akan membuang waktu. Yang terpenting bukanlah bagaimana kita dapat jatuh cinta, tapi bagaimana kita setelah jatuh cinta. Selama kita menjadi orang yang lebih baik karena cinta, setidaknya cinta kita sudah berada di jalan yang benar.

Jumat, 13 November 2015

Kehilangan

Kehilangan

Ini kejadian paling mengerikan dan menakutkan sepanjang hidupku. Kejadian ini pengalaman pertama bagiku. Pengalaman berharga yang tak akan pernah terlupakan.

Aku memiliki seorang adik laki-laki. Umurnya sekitar delapan tahun. Ia adik paling nakal yang  kumiliki. Di rumah ia selalu saja membuat keributan yang membuat orang serumah jengkel. Bisa dibilang adikku yang satu ini si pembuat onar. Banyak sekali sejarah kekacauan di rumah yang telah ia ciptakan. Seperti robohnya garasi, kebakaran kursi, dan lain-lain. Rumah kami didatangi banyak tetangga karena kenakalannya, dan itu hal yang sudah biasa bagi keluarga kami setiap harinya. Adikku yang satu ini juga paling malas sekolah, ia pergi ke sekolah hanya untuk membeli mainan dan binatang peliharaan yang hanya akan bertahan satu hari. Ikan, keong laut, kura-kura, ayam, bahkan sampai kelinci pernah menjadi korbannya. Hampir setiap kasus yang terjadi ia selalu disalahkan sebagai tersangkanya. Sehingga selalu saja ia yang kami sekeluarga marahi, dan terkadang dibenci, olehku. Namun, satu kejadian ini membuatku sadar dan merubah apa yang selama ini aku lihat.

 Aku seorang mahasiswa di universitas negeri yang berkampus di Jatinangor-Sumedang. Dalam beberapa kesempatan aku biasa pulang ke kampung halamanku di Sukabumi. Pada satu waktu aku pulang ke rumah, saat itu hanya ada adikku di rumah. “si pembuat onar”. Seperti biasa, dia sedang mencorat-coret tembok ruang tv waktu itu. Lalu aku pun memarahinya dan menyuruhnya bermain di luar saja. Setelah melewati beberapa ronde debat akhirnya ia pun menyerah dan pergi keluar. Beberapa jam kemudian waktu pun berlalu, ia tak kunjung pulang juga. Rasa kesalku lama-kelamaan berubah menjadi khawatir, saat tiba-tiba seorang anak datang berlari ke dalam rumah dengan wajah yang cemas sambil berkata, “Kak! Itu kak!” anak itu mulai berteriak padaku. Aku merasakan hal yang tak beres terjadi, aku pun bergegas berlari keluar rumah dan mendapati adikku di ujung jalan sedang terpoyong-poyong berjalan ke arahku sambil memegangi kepalanya. Di sela-sela jarinya mengalir deras carian kental berwarna merah segar yang berakhir pada tetesan di ujung sikutnya. Ia tak menangis, tak berteriak, diam tanpa suara. Wajahnya pucat, matanya sedikit sayu, mulutnya terbuka sampai hanya terlihat sedikit ujung giginya. Terlalu cepat untuk bisa dimengerti dan dirasakan olehnya. Aku terdiam waktu itu, beberapa detik kemudian aku gendong ia dan berlari mencari pangkalan ojeg terdekat. Waktu itu jalanan sepi. Aku terus berlari tanpa alas kaki di atas aspal panas yang tak dapat ku rasakan sedikit pun. Aku hanya melihat ke depan, aku dapat merasakan lemasnya tubuh adikku, kaosnya yang basah dan sedikit lengket membasahi tanganku juga. Tanpa perlu melihatnya aku terus berlari sampai menemukan pangkalan ojeg di ujung belokan. Aku diantar menuju klinik terdekat. Namun terpaksa aku harus bergegas pergi ke rumah sakit besar karena yang terjadi pada adikku di luar batas penanganan dokter klinik tersebut. Akhirnya aku tiba di rumah sakit dan menggendongnya ke instalasi gawat darurat. Beberapa perawat datang dan menyiapkan kasur bedah. Berselang beberapa menit yang kulakukan hanya terus memegangi tangannya menahan agar ia tak menyentuh kepalanya yang sedang dijahit. Ia tetap tak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku terus melihat matanya dan berkata “Gak apa-apa” “Gak apa-apa”. Sekitar setengah jam berlalu, aku tak tahu pasti. Itu terasa seharian bagiku, bertahan dalam ketakutan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Akhirnya dokter dan para perawat itu pergi. Enam belas jahitan, sebesar telunjukku.

Beberapa jam kemudian, keluargaku datang. Aku menceritakan semuanya. Aku takut. Takut sekali. Setelah hari itu aku sadar, seberapa pun aku membencinya, kesal padanya, marah, ia tetap adikku. Adik yang kadang membuatku tertawa karena kenakalan-kenakalannya, adik yang membuatku semangat untuk mengejar mimpi-mimpiku. Adik yang aku sayangi.

Kita tak akan pernah menyangka betapa sebenarnya kita menyayangi orang-orang yang selama ini ada di dekat kita. Keluarga, teman-teman, sahabat, kekasih. Yang ikut mengisi hari-hari kita hingga sampai hari ini. Yang ada untuk kita saat sedih dan senang. Memang betul mereka tak selalu membuat kita bahagia, ada kalanya menyulitkan, memalukan, membosankan, bahkan membuat kita ingin membenci mereka. Tapi itu semua tak membuat mereka menjadi tak berharga lagi. Cobalah lihat mereka sekali lagi, perhatikan ketika mereka tersenyum, apa itu tak membuat kita bahagia juga. Perhatikan ketika mereka menangis, apa itu tak membuat kita sakit juga. Kita akan melihat apa yang tak terlihat. Percayalah, kita memang sungguh-sungguh menyayangi mereka.

Hari ini aku belajar satu hal. Mungkin yang orang-orang bilang itu betul, kadang manusia perlu menunggu kehilangan sesuatu untuk menyadari betapa berharganya sesuatu tersebut. Aku bersyukur, aku tak harus mengalami kehilangan itu dulu.